my facebook

Selasa, 09 Oktober 2012

ASKEP HERPES ZOSTER


ASKEP HERPES ZOSTER
BAB I
PENDAHULUAN

Herpes zoster adalah infeksi virus pada kulit. Herpes simpleks virus merupakan salah satu virus yang menyebabkan penyakit herpes pada manusia. Tercatat ada tujuh jenis virus yang dapat menyebabkan penyakit herpes pada manusia yaitu, herpes simpleks, Varizolla zoster (VZV), Cytomegalovirus (CMV), Epstein Barr (EBV), dan human herpes virus tipe 6 (HHV-6), tipe 7 (HHV-7), tipe 8 (HHV-8). Semua virus herpes memiliki ukuran dan morfologi yang sama dan semuanya melakukan replikasi pada inti sel. Herpes simpleks terdiri dari 2 tipe yaitu, Herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) yang menyebabkan infeksi pada mulut, mata, dan wajah sedangkan Herpes simpleks tipe 2 (HSV-2) yang menyebabkan infeksi pada alat kelamin (genetalia). Tetapi, bagaimanapun kedua tipe virus ini dapat menyebabkan penyakit dibagian tubuh manapun. HSV-1 menyebabkan munculnya gelombung berisi cairan yang terasa nyeri pada mukosa mulut, wajah, dan sekitar mata. HSV-2 atau herpes genital ditularkan melalui hubungan seksual da menyebabkan gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada membran mukosa alat kelamin. Infeksi pada vagina terlihat seperti bercak dengan luka. Pada pasien mungkin muncul dengan iritasi, penurunan kesadaran yang disertai pusing, dan kekuningan pada kulit (jaudince) dan kesulitan bernafas atau kejang. Lesi biasanya hilang dalam dua minggu, infeksi. Episode pertama (infeksi pertama) dari infeksi HSV adalah yang paling berat dan dimulai setelah masa inkubasi 4 – 6 hari. Gejala yang timbul, melipti nyeri, inflamasi dan kemerahan pada kulit (eritema) dan diikuti dengan pembentukan gelembung – gelembung yang berisi cairan. Cairan bening tersebut selanjutnya dapat berkembang menjadi nanah, diikuti dengan pembentukan keropeng atau kerak (scab). Stelah infeksi pertama, HSV memiliki kemampuan yang unik untuk bermigrasi sampai pada saraf sensorik tepi menuju spinal ganglia, dan berdormansi sampai diaktifasi kembali. Pengaktifan virus yang berdormansi tersebut dapat disebabkan penurunan daya tahan tubuh, stress, depresi, alergi pada makanan, demam, trauma pada mukosa genital, menstruasi, kurang tidur, dan sinar ultraviolet.
BAB II
TINJAUAN TEORI

1.HERPES ZOSTER
A.    Definisi

Herpes zoster adalah peradangan akut pada kulit dan mukosa yang disebabkan oleh virus varicella zoster.

B. ETIOLOGI

Herpes zoster terjadi karena reaktivasi dari virus varicella (cacar air).
Frekuensi meningkat pada pasien dengan imunitas yang lemah dan menderita malignitas;seperti leukemia dan limfoma.

Cara penularan :

Kontak langsung dengan lesi aktif
Sekresi pernafasan.
Umur:
Dewasa lebih sering dibanding anak-anak.
Jenis kelamin : pria = wanita
Musim/iklim : tidak tergantung musim.




C. PATOFISIOLOGI

Gejala prodromal (80%) : nyeri, demam.
Kelainan kulit:
Lesi : Eritema papula dan vesikula bula.
Isi lesi : jernih keruh dapat bercampur darah.
Lokasi : bisa di semua tempat, paling sering unilateral pada servikal IV dan lumbal II.

D.MANIFESTASI KLINIK
Bila menyerang wajah, yang dipersarafi N.V disebut herpes zoster frontalis.
Bila menyerang cabang optalmikus disebut herpes zoster oftalmik.
Bila menyerang saraf interkostal disebut herpes zoster torakalis.
Bila menyerang daerah lumbal disebut herpes zoster lumbalis.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tzanck’s smear dan punch biopsy: adanya sel raksasa berinti banyak dan sel epitel mangandung badan inklusi eosinofilik, yang tidak terdapat pada lesi yang lain, kecuali virus herpes simpleks.
Isolasi virus: cairan vesikel, darah, cairan serebrospinalis, jaringan terinfeksi, antigen VVZ.

F. KOMPLIKASI
Sikatriks
Neuralgia pascaherpetik

G. PENATALAKSANAAN MEDIK
- Istirahat
- Analgetik
- Asiklovir, famsiklovir, valasiklovir:
5 x 800 mg/hari selama 7 hari, paling
lambat 72 jam setelah lesi muncul.
Kriteria:
- umur > 60 thn.
- umur < 60 thn, lesi luas dan akut.
- segala umur, lesi oftalmikus.
- aktif menyerang leher, alat gerak
dan perineum (lumbal-sakral).
Nursing Intervention
Berikan dan kaji keefektifan obat yang
diberikan.
Kompres dingin, gunakan antipruritus
dingin.
Jaga agar vesikel tidak pecah,
dengan bedak salisil 2%.
Ajarkan pasien dan keluarga tentang
cara penularan dan pencegahan.
Ajarkan tentang pencegahan infeksi sekunder
Berikan suport emosional tentang intervensi yang berkelanjutan.
Pemeriksaan Mata
• Vision acuity test
• Slit lamp
• Ophthalmoscope
• Tonometry
Ada 3 jenis utama katarak berdasarkan lokasi yang terkena.
– Cortical
– Nuclear
– Posterior subcapsular

1.CORTICAL CATARACTC
Paling sering, berhubungan dengan usia.
Terdiri dari 4 tahap:
- Incipient stage
• Perubahan korteks pada bagian perifer.
• Pola kekeruhan radical.
- Intumescent stage
Lensa menyerap air, menjadi bengkak
Anterior chamber menjadi dangkal
- Mature stage
• Cairan keluar dan lensa mengkerut.
• Seluruh protein lensa menjadi keruh

- Hypermature Stage
• Suatu katarak yang sangat matur bisa menyebabkan pencairan pada korteks lensa. Cairan ini bisa keluar dari kapsul yang utuh, sehingga lensa dan kapsul mengkerut.

2. NUCLEAR CATARACTN
• Terjadi saat dini (setelah middle age)
• Gejala paling awal adalah rabun jauh
• Gejala lain adalah sukar membedakan warna atau monocular diplopia.

3. POSTERIOR SUBCAPSULAR.
• Lokasi pada korteks, dekat dengan kapsul posterior bagian tengah.
• Gejala yang paling sering adalah silau dan penurunan penglihatan pada kondisi cahaya terang.
- Congenital Cataract
Sudah terjadi pada saat lahir atau beberapa waktu setelah lahir.
H. ETIOLOGY
• Intra-uterine
infeksi virus
Maternal ingestion of Thalidomide, steroids.
• Hereditary
autosomal dominant
recessive X-linked

I. PENGOBATAN CATARACT
• Surgery merupakan jalan satu-satunya untuk mengatasi katarak. Akan tetapi, bila gejala katarak ringan, bisa dibantu dengan menggunakan kacamata..
• Pembedahan dilakukan bila katarak sudah menyebabkan gangguan penglihatan dalam melakukan akivitas sehari-hari.
- ECCE+IOL
• Extracapsular cataract extraction merupakan metode yang paling dianjurkan pada pembedahan katarak.
• Kapsul lensa bagian belakang tidak diangkat.
• Intra Ocular Lens ditanam di kantong kapsul.
Intraocular Lens
• IOL adalah lensa yang tipis, transparan, convex yang terbuat dari polimer yang diselipkan pada saat pembedahan.
Keuntungan IOL
• Pasien tidak menggunakan kacamata untuk melihat jauh.
• Bayangan jernih tanpa distorsi
• Dapat segera melihat setelah pembedahan.
Phacoemulsification
• Phacoemulsification or phaco berarti getaran ultra-sonic yang menyebabkan lensa menjadi larut dan diaspirasi melalui insisi yang hanya 3mm.
• small-incision cataract surgery.

J. KOMPLIKASI
• Kekeruhan pada kapsul posterior
• Cystoid macular edema
• Glaucoma
• Hyphema
• Ptosis
• Infeksi
• Retinal detachment
• Dislokasi lensa

K. DIAGNOSA KEPERAWATAN                                                                                                
• Perubahan sensori perseptual: visual b/d kekeruhan pd lensa d/d pupil tampak putih, pasien mengeluhkan pandangan kabur, berkabut, atau pandangan ganda dan gangguan penglihatan.
• Ketakutan/ ansietas b/d kerusakan sensori dan kurang pemahaman mengenai perawatan pasca operasi, pemberian obat.
• Resiko cedera b/d penurunan visus atau berada di lingkungan yang kurang dikenal.
• Resiko cedera b/d komplikasi pasca operasi spt; pendarahan atau peningkatan tekanan intra okuler.
• Defisit perawatan diri b/d kelemahan visual dan perawatan mata pasca operasi.
• Resiko tinggi infeksi b/d prosedur invasif (bedah pengangkatan katarak)
• Kurang pengetahuan ttg kondisi pengobatan dan perawatan pasca operasi b/d terbatasnya informasi atau kesalahan interpretasi informasi.
• Perubahan sensori perseptual: visual b/d kekeruhan pd lensa d/d pupil tampak putih, pasien mengeluhkan pandangan kabur, berkabut, atau pandangan ganda dan gangguan penglihatan.

L.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Tujuan : Pasien mendemonstrasikan peningkatan kemampuan untuk memproses rangsangan visual dan mengkomunikasikan pembatasan pandangan.
Kriteria Hasil:
– Visus meningkat
– Respon verbal peningkatan penglihatan
Intervensi
Mandiri: 1. kaji ketajaman penglihatan klien
2. berikan pencahayaan yg plg sesuai dgn klien
3. cegah glare atau sinar yg menyilaukan
4. letakkan brg2 pd tempat yang konsisten
5. gunakan materi dgn tulisan besar dan kontras.

3.HERPES SIMPLEKS
A.DEFINISI
Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I atau tipe II yang ditandai adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang lembab dan merah. Vesikel ini paling sering terdapat di sekitar mulut, hidung, daerah genital dan bokong, walaupun dapat juga terjadi di bagian tubuh lain.

B.EFIDEMIOLOGI
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia dan menyerang baik pria dan wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi virus herpes simpleks tipe I biasanya dimulai pada usia anak-anak, sedangkan infeksi virus herpes simpleks tipe II biasanya terjadi pada usia dewasa dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual.

C.PENYEBAB
Penyakit ini disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I dan tipe II. Virus herpes simpleks tipe 1 berperan dalam kelainan di sekitar mulut sedangkan virus herpes simpleks tipe II berperan dalam kelainan di sekitar genital. Daerah yang terkena ini sering kacau karena adanya cara hubungan seksual seperti oral-genital, sehingga herpes yang terdapat di daerah genital kadang-kadang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I sedangkan di daerah mulut dan rongga mulut dapat disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe II.

D.GEJALA

Gejala herpes simpleks dapat bervariasi dari satu individu ke individu lain. Infeksi pertama berlangsung lebih lama dan lebih berat, kira-kira 3 minggu dan sering disertai gejala lain seperti demam, lemas, nyeri di sekitar mulut, tidak mau makan dan dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala utamanya berupa vesikel yang berkelompok di atas kulit yang lembab dan merah, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi keruh, terkadang gatal dan dapat menjadi krusta. Krusta ini kemudian akan lepas dari kulit dan memperlihatkan kulit yang berwarna merah jambu yang akan sembuh tanpa bekas luka. Vesikel ini dapat timbul di tubuh bagian mana saja, namun paling sering timbul di daerah sekitar mulut, hidung, daerah genital dan bokong. Setelah itu, penderita masuk dalam fase laten, karena virus tersebut sebenarnya masih terdapat di dalam tubuh penderita dalam keadaan tidak aktif di dalam ganglion (badan sel saraf), yang mempersarafi rasa pada daerah yang terinfeksi. Pada fase ini tidak ditemukan gejala klinis.

Infeksi rekuren (berulang) dapat terjadi bila virus herpes simpleks pada ganglion yang dalam keadaan tidak aktif dengan sebuah mekanisme menjadi aktif dan mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala. Mekanisme itu dapat berupa demam, infeksi, kurang tidur, hubungan seksual, gangguan emosional, menstruasi dan sebagainya. Gejala yang timbul lebih ringan daripada infeksi pertama dan berlangsung kira-kira 7 sampai 10 hari. Selain itu terkadang timbul rasa panas, gatal dan nyeri sebelum vesikel timbul.
Bila pada kehamilan timbul herpes genitalis, perlu mendapat perhatian yang serius, karena virus dapat sampai ke sirkulasi darah janin melalui plasenta (ari-ari) serta dapat menimbulkan kerusakan atau kematian pada janin. Kelainan yang timbul pada bayi dapat berupa ensefalitis (radang selaput otak), keratokonjungtivitis (radang di mata) atau hepatitis (radang di hati)
D.PENGOBATAN

Untuk mengobati herpes simpleks, dokter dapat memberikan pengobatan antivirus dalam bentuk krim atau pil. Pengobatan ini tidak dapat menyembuhkan herpes simpleks, namun dapat mengurangi durasi terjadinya penyakit dan mengurangi beratnya penyakit. Antivirus yang diakui oleh FDA (badan pengawas obat-obatan Amerika Serikat) antara lain: Acyclovir, Valacyclovir dan Famcyclovir. Jika seseorang sedang mendapat pengobatan untuk herpes simpleks, maka pasangan seksualnya disarankan untuk diperiksa, dan bila perlu, diobati juga walaupun tidak ada gejala. Hal ini akan mengurangi resiko terjadinya komplikasi yang serius pada infeksi herpes simpleks yang tidak terdiagnosis atau mencegah penyebaran infeksi ini ke orang lain. Mereka juga disarankan untuk tidak berhubungan seksual sampai selesai pengobatan.

F. PENCEGAHAN

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran herpes simpleks antara lain:
- Hindari berhubungan seksual dengan orang lain bila masih terdapat vesikel
- Hindari pinjam meminjam barang pribadi seperti handuk
- Hindari pencetus terjadinya episode rekuren seperti kurang tidur, stress berlebihan.



BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian keperawatan
a. Riwayat
• Riwayat menderita penyakit cacar
• Riwayat immunocompromised (HIV/AIDS, Leukimia)
• Riwayat terapi radiasi
b. Diet
c. Keluhan utama
• Nyeri
• Sensasi gatal
• Lesi kulit
• Kemerahan
• Fatige
d. Riwayat psikososial
• Kondisi psikologis pasien
• Kecemasan
• Respon pasien terhadap penyakit

e. Pemeriksaan fisik
• Tanda vital
• Tes diagnostik

3.2 Diagnosa keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit b/d lesi dan respon peradangan
2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan infeksi virus
3. Gangguan rasa nyaman (pruritus) yang berhubungan dengan erupsi dermal
4. Gangguan integritas kulit yang berhubungan vesikel yang mudah pecah
5. Resiko terjadi gangguan konsep diri, yang berhubungan dengan penampilan dan respon orang lain

3.3 Intervensi keperawatan:

1. Kerusakan integritas kulit b/d lesi dan respon peradangan ditandai dengan:
DO: - Erupsi berupa vesikel yang menggerombol
- Warna kulit kemerahan

DS: - Pasien merasa kulitnya panas
Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan intergritas kulit yang lebih parah setelah dilakukan tindakan keperawatan 7 X 24 jam

Kriteria hasil :
• Erupsi berkurang
• Kulit tidak kemerahan dan terjadi iritasi yang lebih parah
• Lakukan mobilisasi semaksimal mungkin untuk menghindari periode penekanan yang terlalu lama.
• Ajarkan pada pasien atau keluarga pasien supaya mengerti tindakan-tindakan yang tepat untuk mencegah penekenan,gesekan,pergeseran,
• Ajarkan pada pasien untuk waspada terhadap tanda-tanda awal kerusakan jaringan.
• Ganti posisi sekurana-kurangnya tiap 2 jam
• Usahakan kulit klien selalu bersih dan kering

Rasionalisasi :

• Dengan dilakukan mobilisasi secara rutin (alih posisi) diharapkan kulit pasien tidak terlalu lama tertekan sehingga vaskularisasi menjadi lancar.
• Memberikan dorongan pada pasien dan keluarga untuk secara aktif ikut serta dalam proses penyembuhan dan asuhan keperawatan, sehingga dengan begitu tujuan dapat segera tercapai.
• Dengan meenjaga kulit yang senantiasa kering dan bersih hal ini akan dapat mempercepat penyembuhan dimana keadaan kulit pasien terutama luka/vesikel yang mudah pecah ( mencegah penularan dan penyebaran luka.

2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan infeksi virus, ditandai dengan :

DS : pusing, nyeri otot, tulang, pegal
DO: erupsi kulit berupa papul eritema, vseikel, pustula, krusta

Tujuan :

Rasa nyaman terpenuhi setelah tindakan keperawatan

Kriteria hasil :

Rasa nyeri berkurang/hilang
Klien bias istirahat dengan cukup
Ekspresi wajah tenang

Intervensi:

• Kaji kualitas & kuantitas nyeri
• Kaji respon klien terhadap nyeri
• Jelaskan tentang proses penyakitnya
• Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
• Hindari rangsangan nyeri
• Libatkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang teraupeutik
• Kolaborasi pemberian analgetik sesuai dengan intensitas nyeri

3. Gangguan rasa nyaman (pruritus) yang berhubungan dengan erupsi dermal yang ditandai dengan:

DO : Erupsi berupa vesikel yang menggerombol
DS : Pasien mengeluh gatal

Tujuan : Pasien tidak mengalami pruritus setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 5x24 jam.
Kriteria hasil : pasien tidak mengeluh gatal lagi

Intervensi:

• Anjurkan pasien untuk mandi air hangat dan sabun antiseptik ( hati-hati jangan sampai vesikel pecah )
• Beritahu pasien agar tidak menggaruk dan menepuk kulit.
• Anjurkan pasien untuk memakai bedak ( salisil 2% ) untuk mengurangi rasa gatal.
• Observasi kerusakan jaringan akibat pecahnya vesikel.

Rasionalisasi :

• Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk ( karena semakin digaruk akan semakin terasa gatal ) yang akhirnya akan lengket karena vesikel yang pecah.

4. Gangguan integritas kulit yang berhubungan vesikel yang mudah pecah, ditandai dengan :
DS : -
DO: kulit eritem vesikel, krusta pustul
Tujuan :

Integritas kulit tubuh kembali dalam waktu 7-10 hari

Kriteria hasil :

Tidak ada lesi baru
Lesi lama mengalami involusi

Intervensi:

• Kaji tingkat kerusakan kulit
• Jauhkan lesi dari manipulasi dan kontaminasi
• Kelola tx topical sesuai program

5. Resiko terjadi gangguan konsep diri, yang berhubungan dengan penampilan dan respon orang lain yang ditandai dengan:

DO :
• Erupsi berupa vesikel yang menggerombol
• Warna kulit kemerahan
• Pasien tampak menarik diri
• Pasin tampak gelisah
DS :
• Pasien mengeluh malu untuk bergaul
• Pasien selalu menanyakan tentang penyakitnya

Tujuan : Pasien tidak mengalami gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan gambaran diri setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam.

Kriteria hasil :
• Pasien tidak malu mengenai penyakitnya
• Pasien mau bersosialisasi kembali
• Pasien tidak menarik diri
• Pasien tidak gelisah lagi

Tujuan :

• Berikan dorongan/support mental kepada pasien dan yakinkan bahwa penyakitnya dapat disembuhkan.Bina hubungan saling percaya antara perawat dan klien.
• Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaannya terutama cara dia memandang dirinya setelah sakitnya.
• Lindungi prifacy dan menjamin lingkungan yang kondusif.
• Jernihkan kesalahan persepsi individu tentang dirinya.

Rasionalisasi :

• Dengan membina hubungan saling percaya dan selalu memberikan support mental pada pasien diharapkan percaya diri pasien dapat kembali seperti semula dan pasien dapat bersosialisasi dengan baik



BAB IV
PENUTUP

Herpes dapat menyebar dari suatu area kelainnya, yang disebut “autoinoculation”, Contohnya, menyentuh cold sore pada bibir dapat menyebabkan herpes dari jari tangan (herpetic whitlow). Autoincolation terjadi paling umum pada saat infeksi primer, ketika penumpahan virus tinggi dan sistem imun masih sedang dicocokkan untuk menahannya. Antibodi – antibodi yang dibuat setelah infeksi primer biasanya namub tidak selalu berhasil dalam mencegah autoincolation selama serangan – serangan yang berulang.
Komplikasi yang lebih serius adalah ocular herpes, yang dikarakteristikkan oleh luka – luka dan nyeri yang parah sekitar mata. Ocular haerpes juga disebabkan oleh autoincolation. Jika tidak dirawat, oculat herpes dapat menjurus pada kerusakan yang serius atau bahakan kebutaan.
Jarang, herpes simpleks mungkin menginfeksi otak, menyebabkan enchephalitis. Infeksi ini memerlukan rawat inap dan obat – obatan antivirus intravena.
Pada orang – orang yang imunnya dikompromikan, seperti yang menerima kemoterapi, penjangkitan – penjangkitan yang parah dari herpes mungkin terjadi. Colds sores mungkin menyebar ke bagian – bagian yang lebih besar dari muka bagian bawah atau meneyrang organ – organ. Terapi antivirus digunakan untuk mencegah atau mengurangi serangan – serang seperti itu.










DAFTAR PUSTAKA

• Handoko R.P.(2005). Herpes Simpleks dalam ilmu penyakit kulit dan kelamin. Djuanda Adhi, Hamzah M, Aisah S (ed).ed cat.4. Jakarta:Balai Penerbit FK UI, p359 – 361.
• Zitalal.(2010).Internet. Kumpulan asuhan keperawatan terdahsyat.Mataram. www.duta4diagnosa.blogspot.com
• Hartadi, Sumaryo, S.(2000).herpes simpleks dalam ilmu penyakit kulit, Hipokrates.Jakarta:EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar